#JelajahJakarta

Jelajah Jakarta: Menyusuri Sejarah dan Budaya Tionghoa di Glodok

September 01, 2020

Rasa bosan akibat mengurung diri di rumah atau kos pasti tak terhindarkan di tengah pandemi ini. Apalagi untuk orang yang doyan keluyuran, pasti kakinya gatel karena selama beberapa bulan ini harus menahan diri buat nggak travelling. Untuk mengobati kejenuhan sekaligus menuruti kegandrungan saya akan 10k steps tiap weekend, saya memutuskan untuk melakukan #JelajahJakarta yaitu self-guided walking tour ke berbagai tempat di Jakarta. Destinasi walking tour ini diutamakan untuk tempat-tempat yang memiliki nilai historis yang tidak dipenuhi banyak orang (ya namanya juga physical distancing kan). Semoga kalian yang membaca ikut menikmati perjalanan kami ya. Selamat membaca! 

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 


Jajaran pertokoan di Glodok

Buat kalian yang orang Jakarta, pasti nggak asing kan dengan nama Glodok. Begitu denger nama Glodok pasti yang kebayang pertama kali adalah toko eletronik milik kokoh-kokoh atau cicik-cicik. Saya sendiri udah sering ngelewatin Glodok, terutama pasarnya. Tapi, belum pernah mampir ke sana. Iya, saya katrok karena mainnya cuma sekitaran Kuningan-Sudirman-Tebet-Kemang. Padahal udah 3,5 tahun di Jakarta tapi dolane kurang adoh (mainnya kurang jauh). 

Tercetus untuk self-guided walking tour ke daerah Glodok setelah melihat akun instagramnya @Jktgoodguide dan nemu walking tour mereka ke Pasar Glodok. Dari situ saya browsing-browsing lagi terkait Glodok. Selain banyak menyimpan cerita historis, Glodok juga memiliki banyak destinasi yang menarik dan jajanan endeus yang dapat ditemui di pasarnya. Akhirnya, saya, Garin, Ncus, dan Ganesh sepakat untuk walking-walking ke daerah Glodok pada hari Sabtu, 29 Agustus 2020. 

Menurut portal resmi Pemerintah Daerah Jakarta, dulu daerah Glodok merupakan daerah rawa-rawa yang dan menjadi pusat pemukiman warga Tionghoa setelah pengusiran secara besar-besaran yang disertai pembataian yang dilakukan tentara Belanda terhadap warga Tionghoa pada 1740. Pembantaian ini dilatarbelakangi dengan anggapan bahwa orang Tionghoa merupakan biang dari berbagai masalah di sekitar Batavia. Untuk memudahkan pengawasan terhadap komunitas Tionghoa, mereka dipusatkan untuk bermukim di daerah yang sekarang disebut Glodok. 

Terkait asal mula nama Glodok, terdapat beberapa versi. Versi pertama menyebutkan bahwa konon nama Glodok berasal dari kata grojok, suara kucuran air dari pancuran yang berbunyi grojok grojok. Dulu, di daerah tersebut terdapat semacam waduk untuk menampung air dari Kali Ciliwung yang dikucurkan dengan pancuran dari kayu dengan ketinggian 10 kaki. Nah, lama-lama warga Tionghoa menyesuaikan pengucapan grojok menjadi glodok, sesuai dengan lidah mereka. 

 
Salah satu sudut di Glodok 

Meeting Point 

Kami sepakat buat ketemuan di Citywalk Gajah Mada. Saya pikir jarak Citywalk ke Pasar Glodok sekitar 1 kilometer, ternyata cuma 350 meter. Pantes bentar banget jalannya. Kalau ingin lebih jauh biar lebih manteup buat mencapai 10k steps, bisa berkumpul di Grand Paragon Hotel yang berjarak 1,1 km dari Pasar Glodok.

Petak Sembilan
Alamat: Jl. Kemenangan Raya No.40, Glodok

Destinasi pertama kami adalah Pasar Petak Sembilan, sebuah pasar yang berada di sepanjang gang kecil di belakang Pasar Glodok. Asal-usul nama Petak Sembilan ini juga masih simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa dulu terdapat rumah petak berjumlah sembilan buah, hingga akhirnya disebut sebagai Petak Sembilan. 

Pasar ini menjual berbagai kebutuhan masyarakat pada umumnya, seperti sayur mayur, buah, ikan, daging, dan lain sebagainya. Yang bikin saya takjub adalah sayur dan buah yang dijual di pasar ini sueger-sueger, macam di supermarket. Nah, di pasar ini kita juga bisa menemukan rupa-rupa peralatan untuk keperluan ibadah umat Buddha dan Konghuchu, toko obat tradisional, dan berbagai camilan khas Tionghoa Kami sampai di pasar ini sekitar pukul 09.00 WIB. Suasana pasar tidak begitu ramai, entah karena ada anjuran physical distancing di tengah pandemi atau memang biasanya juga begitu. Saya sendiri nggak beli apa-apa karena terlalu gumun (takjub) dengan sayur-mayur yang gendut dan segar.

Vihara Dharma Bhakti (Kelenteng Jin De Yuan)
Alamat: Jalan Kemenangan III Petak Sembilan No. 19

Destinasi selanjutnya yaitu Vihara Dharma Bhakti (Kelenteng Jin De Yuan) yang terletak di ujung Pasar Petak Sembilan. Vihara ini merupakan vihara tertua di Jakarta dan didirikan pada tahun 1650 oleh Letnan Guo Xun-Guan dengan nama Guan Yin Ting. Pada saat pembantaian dan pengusiran warga Tionghoa di tahun 1740, vihara ini turut rusak dan terbakar. Vihara ini direkonstruksi oleh warga setempat dipimpin oleh Kapiten Oey Tjie pada 1755 dan berganti nama menjadi Jin De Yuan. Sayangnya, pada 2 Maret 2015 vihara ini kembali terbakar akibat konsleting listrik :( 

Sewaktu kami berkunjung ke sana, ada beberapa warga yang sedang beribadah. Terdapat pula penyusunan rumah kertas beserta isinya. Sepertinya, rumah kertas tersebut akan dibakar sebagai persembahan untuk dewa atau leluhur. 

 
Bangunan Vihara Dharma Bhakti (Kelenteng Jin De Yuan) 
 
 
Vihara Dharma Bhakti (Kelenteng Jin De Yuan) 
 
Gereja Santa Maria de Fatima 
Alamat: Jalan Kemenangan III No. 47 
 
Dari Vihara Dharma Bhakti, kami lanjut ke Gereja Santa Maria de Fatima. Gereja ini berada dalam satu komplek yang sama dengan Sekolah Ricci. Menurut portal resmi milik gereja ini, tujuan awal didirikannya Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebagai gereja, sekolah dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau) yang berada di sekitar Glodok. Banguan gereja ini sangat unik. Bentuknya mirip rumah khas Tionghoa. 
 
Konon, dulunya sebelum dijadikan gereja, bangunan ini merupakan rumah seorang warga Tionghoa. Selain itu, bangunan gereja dengan perpaduan warna merah dan kuning menambah kesan yang khas. Pada pintu masuk, terdapat patung dua singa sebagai lambang penjaga gereja. Selain itu, kepercayaan orang Tionghoa menyebutkan bahwa singa adalah lambang kemegahan bangsawan. Sejak tahun 1972, Gereja Santa Maria De Fatima dilindungi undang-undang sebagai Cagar Budaya karena nilai sejarah serta arsitekturnya yang mempertahankan gaya bangunan khas Fukien atau Tiongkok Selatan. 
 
 Tampak depan bangunan Gereja Santa Maria de Fatima 
 
 Papan nama Gereja Santa Maria de Fatima 
 
 
Vihara Dharma Jaya Toasebio 
Alamat: Jl. Kemenangan III No.48 RT.11/RW.3, Glodok 
 
Sekitar 100 meter dari Gereja Santa Maria de Fatima, terdapat sebuah vihara bernama Viara Dharma Jaya Toasebio. Vihara ini didirikan pada tahun 1755. Nama Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. 
 
Kami disambut dengan gerbang yang dihiasi dengan ornamen naga dan burung yang didominasi warna merah. Vihara tersebut dijaga beberapa engkoh mempersilakan kami masuk dengan ramah. Konon vihara ini masih mempertahankan bentuk aslinya dan hanya merenovasi beberapa bagian di atapnya agar tidak roboh. Di bagian belakang vihara, terdapat gedung tinggi yang merupakan kantor Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio. Di bagian halaman vihara terdapat kanopi yang dilengkapi tempat duduk sehingga nyaman untuk digunakan para pengunjung atau warga yang ingin beribadah. 
 
 Bagian depan Vihara Dharma Jaya Toasebio 
 
 Bagian dalam Vihara Dharma Jaya Toasebio 
 

Duduk-duduk di halaman Vihara Dharma Jaya Toasebio 
  
Kopi Es Tak Kie 
Alamat: Gang Gloria, Jl. Pintu Besar Selatan III No. 4 – 6 Glodok
 
Setelah menyusuri Jalan Kemenangan III, kami berjalan menyeberangi jalan Pancoran, lanjut menuju Gang Gloria. Di sepanjang gang ini terdapat makanan-makanan khas Tionghoa dan makanan tempo dulu yang legendaris, salah satunya adalah kedai Kopi Es Tak Kie. Di pintu masuknya, ditandai dengan ragam pedagang permen dan manisan khas Tionghoa. 
 
 Suasana di Kopi Es Tak Kie 
 
Kedai ini berdiri pada tahun 1927 oleh seorang perantau dari Tiongkok bernama Liong Kwie Tjong. Nama Tak Kie berasal dari kata “Tak” yang artinya orang yang bijaksana, sederhana dan tidak macam-macam. Sementara kata “Kie” berarti mudah diingat orang. Awalnya kedai ini hanya sebuah warung kopi (warkop) yang berada di kawasan Petak Sembilan. Kami sampai di kedai ini sekitar pukul 10.00 WIB. Susananya ramai, bahkan kami harus menunggu sambal berdiri sebelum akhirnya mendapatkan kursi. 
 
Saya dan Garin memesan es kopi susu, Ncus memesan es kopi, dan Ganesh memesan mie bakso. Rasa es kopi susunya hmm….biasa aja. Mungkin ekspektasi saya yang terlalu tinggi mengingat kedai ini sudah sangat legendaris. Kata Ncus, es kopinya juga biasa, seperti es kopi di warmindo atau warkop pada umumnya. Mie baksonya yang kata Ganeh enak. “Kayaknya sih ada minyak babinya”, testimoni Ganesh si pecinta per-babian. Saya udah browsing-browsing apakah makanan di Kopi Es Tak Ki halal atau tidak dan belum nemu jawabannya. Jika ada teman-teman yang tahu, feel free to comment ya! Oh ya, total harga makanan kami Rp 106.000. 
 
 
Segelas es kopi susu 
 

Kakek dan Nenek bersantap di Kopi Es Tak Kie 
  
Gang Kalimati 
Alamat: Jl. Pancoran Gang Kalimati, Glodok 
 
Selepas menikmati es kopi susu, saya dan teman-teman menyebrangi Jalan Pancoran kembali menuju Gang Kalimati. Padahal Gang Kalimati dekat dengan Pasar Petak Sembilan, berhubung kami ini banyak mau dan ruwet, jadinya malah ke Gang Gloria dulu. Gang Kalimati ini juga merupakan pasar dengan beraneka macam jajanan khas Tionghoa. Saya ngebet pengen ke Gang Kalimati karena mau beli pia durian dan cempedak goreng. Pasar di Gang Kalimati ini juga cukup lengang, mungkin karena sudah cukup siang juga kami ke sana. 
 
Akhirnya ketemu juga si pia durian alias Pia Lau Beijing. Sebenernya ada berbagai macam rasa tapi yang paling terkenal ya si rasa durian ini. Saat kami mau beli, pia ini sedang digoreng di atas wajan berbentuk kotak. Harga satu buah pia Rp 5000. Rasanya kriuk di luar dan duriannya lembut di dalam, mak nyosss deh pokoknya. Duriannya berasa banget dan sama sekali nggak pelit porsinya. Sayangnya, begitu sampe kos, perut saya langsung kembung dan kentut-kentut nggak jelas hiks. Kayaknya gegara nggak makan durian dalam jangka waktu lama, perut jadi sensi abis huhu. 
 
Pia Lau Beijing
 
Selain membeli pia, saya juga membeli cempedak goreng. Cempedak adalah buah yang mirip banget sama nangka, cuma teksturnya lebih lembut dan lebih kecil ukurannya. Harga satu buah cempedak goreng adalah Rp 15.000. Mihil uga ya atau emang saya aja yang kere hiks. Sayang sekali, cempedaknya kurang jadi cuma berasa tepung goreng yang sangat berminyak huhu. Padahal dengan harga segitu harusnya cempedaknya bisa ditambah. Protes teroos, niat nyicip opo nyacat he ckck.
 
Penjual cempedak di Gang Kalimati

 
Cempedak goreng

 
 
Pantjoran Tea House
Alamat: Jl. Pancoran No.4-6 Glodok 
 
Kami sengaja menjadikan Pantjoran Tea House sebagai tempat persinggahan terakhir agar bisa leyeh-leyeh di ruangan ber-AC. Bangunan tea house ini terletak di ujung jalan dan mencolok mata setiap orang yang lewat dengan arsitekturnya yang khas. Awalnya, bangunan ini merupakan toko obat yang didirikan sejak tahun 1635 yang merupakan took obat kedua tertua di Batavia. Jangan tanya yang paling tua mana, karena saya nggak tahu dan males googling huhu. 
 
Di sini kami memesan teh premium yang disajikan dengan cara khusus. Berhubung cerita tentang Pantjoran Tea House ini bakalan panjang, jadi akan saya buat di tulisan yang terpisah. Silakan klik di sini ya untuk yang mau baca secara detil. 
 

Tampak depan bangunan Pantjoran Tea House 
 
 
Referensi:


Portal Resmi Pemda Jakarta, “Pertokoan Glodok, Situs Ingatan Tragedi Mei 1998”, https://www.jakarta.go.id/artikel/konten/3688/pertokoan-glodok-situs-ingatan-tragedi-mei-1998 diakses pada 31 Agustus 2020

Jawa Pos, 3 Abad Berdiri, Vihara Dharma Bhakti Saksi Sejarah Pecinan di Glodok”, https://www.jawapos.com/jpg-today/05/02/2019/3-abad-berdiri-vihara-dharma-bhakti-saksi-sejarah-pecinan-di-glodok/ diakses pada 31 Agustus 2020

Tri Wahyuni, “Hikayat Kawasan Petak Sembilan”, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150219153719-269-33379/hikayat-kawasan-petak-sembilan diakses pada 31 Agustus 2020

My Instagram Feed