Jelajah Jakarta: Menyusuri Sejarah dan Budaya Tionghoa di Glodok
September 01, 2020- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Buat kalian yang orang Jakarta, pasti nggak asing kan dengan nama Glodok. Begitu denger nama Glodok pasti yang kebayang pertama kali adalah toko eletronik milik kokoh-kokoh atau cicik-cicik. Saya sendiri udah sering ngelewatin Glodok, terutama pasarnya. Tapi, belum pernah mampir ke sana. Iya, saya katrok karena mainnya cuma sekitaran Kuningan-Sudirman-Tebet-Kemang. Padahal udah 3,5 tahun di Jakarta tapi dolane kurang adoh (mainnya kurang jauh).
Tercetus untuk self-guided walking tour ke daerah Glodok setelah melihat akun instagramnya @Jktgoodguide dan nemu walking tour mereka ke Pasar Glodok. Dari situ saya browsing-browsing lagi terkait Glodok. Selain banyak menyimpan cerita historis, Glodok juga memiliki banyak destinasi yang menarik dan jajanan endeus yang dapat ditemui di pasarnya. Akhirnya, saya, Garin, Ncus, dan Ganesh sepakat untuk walking-walking ke daerah Glodok pada hari Sabtu, 29 Agustus 2020.
Menurut portal resmi Pemerintah Daerah Jakarta, dulu daerah Glodok merupakan daerah rawa-rawa yang dan menjadi pusat pemukiman warga Tionghoa setelah pengusiran secara besar-besaran yang disertai pembataian yang dilakukan tentara Belanda terhadap warga Tionghoa pada 1740. Pembantaian ini dilatarbelakangi dengan anggapan bahwa orang Tionghoa merupakan biang dari berbagai masalah di sekitar Batavia. Untuk memudahkan pengawasan terhadap komunitas Tionghoa, mereka dipusatkan untuk bermukim di daerah yang sekarang disebut Glodok.
Terkait asal mula nama Glodok, terdapat beberapa versi. Versi pertama menyebutkan bahwa konon nama Glodok berasal dari kata grojok, suara kucuran air dari pancuran yang berbunyi grojok grojok. Dulu, di daerah tersebut terdapat semacam waduk untuk menampung air dari Kali Ciliwung yang dikucurkan dengan pancuran dari kayu dengan ketinggian 10 kaki. Nah, lama-lama warga Tionghoa menyesuaikan pengucapan grojok menjadi glodok, sesuai dengan lidah mereka.
Meeting Point
Kami sepakat buat ketemuan di Citywalk Gajah Mada. Saya pikir jarak Citywalk ke Pasar Glodok sekitar 1 kilometer, ternyata cuma 350 meter. Pantes bentar banget jalannya. Kalau ingin lebih jauh biar lebih manteup buat mencapai 10k steps, bisa berkumpul di Grand Paragon Hotel yang berjarak 1,1 km dari Pasar Glodok.
Destinasi pertama kami adalah Pasar Petak Sembilan, sebuah pasar yang berada di sepanjang gang kecil di belakang Pasar Glodok. Asal-usul nama Petak Sembilan ini juga masih simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa dulu terdapat rumah petak berjumlah sembilan buah, hingga akhirnya disebut sebagai Petak Sembilan.
Pasar ini menjual berbagai kebutuhan masyarakat pada umumnya, seperti sayur mayur, buah, ikan, daging, dan lain sebagainya. Yang bikin saya takjub adalah sayur dan buah yang dijual di pasar ini sueger-sueger, macam di supermarket. Nah, di pasar ini kita juga bisa menemukan rupa-rupa peralatan untuk keperluan ibadah umat Buddha dan Konghuchu, toko obat tradisional, dan berbagai camilan khas Tionghoa Kami sampai di pasar ini sekitar pukul 09.00 WIB. Suasana pasar tidak begitu ramai, entah karena ada anjuran physical distancing di tengah pandemi atau memang biasanya juga begitu. Saya sendiri nggak beli apa-apa karena terlalu gumun (takjub) dengan sayur-mayur yang gendut dan segar.
Destinasi selanjutnya yaitu Vihara Dharma Bhakti (Kelenteng Jin De Yuan) yang terletak di ujung Pasar Petak Sembilan. Vihara ini merupakan vihara tertua di Jakarta dan didirikan pada tahun 1650 oleh Letnan Guo Xun-Guan dengan nama Guan Yin Ting. Pada saat pembantaian dan pengusiran warga Tionghoa di tahun 1740, vihara ini turut rusak dan terbakar. Vihara ini direkonstruksi oleh warga setempat dipimpin oleh Kapiten Oey Tjie pada 1755 dan berganti nama menjadi Jin De Yuan. Sayangnya, pada 2 Maret 2015 vihara ini kembali terbakar akibat konsleting listrik :(
Sewaktu kami berkunjung ke sana, ada beberapa warga yang sedang beribadah. Terdapat pula penyusunan rumah kertas beserta isinya. Sepertinya, rumah kertas tersebut akan dibakar sebagai persembahan untuk dewa atau leluhur.
Portal Resmi Pemda Jakarta, “Pertokoan Glodok, Situs Ingatan Tragedi Mei 1998”, https://www.jakarta.go.id/artikel/konten/3688/pertokoan-glodok-situs-ingatan-tragedi-mei-1998 diakses pada 31 Agustus 2020
Jawa Pos, “3 Abad Berdiri, Vihara Dharma Bhakti Saksi Sejarah Pecinan di Glodok”, https://www.jawapos.com/jpg-today/05/02/2019/3-abad-berdiri-vihara-dharma-bhakti-saksi-sejarah-pecinan-di-glodok/ diakses pada 31 Agustus 2020
Tri Wahyuni, “Hikayat Kawasan Petak Sembilan”, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150219153719-269-33379/hikayat-kawasan-petak-sembilan diakses pada 31 Agustus 2020















2 komentar
Halo
BalasHapusAdek Cookie mau ikut katanya.
BalasHapus